Banjir Aceh 2017, Warga Butuh Pakaian dan Perlengkapan Sekolah

Sekitar 2.476 orang tercatat menjadi korban dari banjir bandang yang diakibatkan oleh luapan air dari kawasan ekosistem dari Gunung Leuser yang terjadi pada bulan April lalu, begitulah yang disampaikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Aceh Tenggara, Irwan di Kutacane pada Kamis (13/4/17) lalu, setidaknya ada 2.476 jiwa atau sekitar 648 kepala keluarga yang menjadi korban banjir Aceh 2017 yang melanda 5 desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala.

Irwan merinci sekitar 2.000-an jiwa yang tersebar di wilayah Desa Lawe Sigala Timur berjumlah 900 orang atau sekitar 195 kepala keluarga dan di Desa Sigala Tua Gabungan sejumlah 608 jiwa atau 159 kepala keluarga. Sedangkan di Desa Lawe Tua Persatuan ada 568 orang atau sekitar 148 kepala keluarga, Desa Kayu Belin 220 jiwa (80 kepala keluarga) dan yang terakhir adalah di Desa Lawe Sigala Barat 180 orang (66 kepala keluarga). Sementara itu, korban jiwa dilaporkan ada 2 orang yaitu atas nama Orlina Boru Sitorus (86) seorang warga lansia di Desa Lawe Sigala Barat dan seorang balita yang bernama Terang Sitanggang (1,5) dari Desa Lawe Tua Gabungan.

Hal tersebut berdasarkan data rekapitulasi bencana banjir Aceh tahun 2017 yang melanda wilayah Aceh Tenggara yang berhasil dihimpun mulai tanggal (11/4/17) hingga tanggal (12/4/17) lalu. Irwan juga mengklaim bahwa berbagai material yang terbawa oleh air bah dari ekosistem di pegunungan Leuser seperti kayu gelondongan dan juga bebatuan yang ada di jalan lintas Kutacane-Medan, telah berhasil dibersihkan.

Ribuan warga Aceh yang terkena dampak dari banjir bandang yang terjadi di 2 kecamatan yaitu Lawe Sigala-gala dan Semadam, Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Sebagian warga masih ada yang bertahan di lokasi tenda pengungsian sedangkan sebagiannya lagi memilih untuk mengungsi ke rumah saudara-saudara mereka. Setidaknya 7 buah dapur umum telah didirikan di sekitar lokasi pengungsian. Untuk saat itu, kebutuhan pangan sudah tercukupi, yang lebih dibutuhkan adalah pakaian sekaligus perlengkapan sekolah bagi para pelajar, ungkap Ramadhan, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara.

Salah seorang warga yang juga terkena dampak dari banjir Aceh tahun 2017 ini, Nuriyem (48) mengaku terpaksa mengungsikan diri dan keluarganya di rumah salah seorang kerabat sebab saat itu, rumah yang ia tempati penuh dengan lumpur. Ia bahkan tak sempat menyelamatkan barang-barang karena tidak sempat saat air bah sudah terlanjur datang. Ia juga berharap bahwa kedua anaknya yang masih duduk di bangku SMA dan SD bisa kembali bersekolah mengingat seragam dan perlengkapan sekolah lain milik anak-anaknya sudah tidak dapat dipakai lagi.