MANFAAT UNTUK PETANI

RGE Perkuat Kerjasama Dengan Petani Swadaya

Source: Nasionalisme.co

Korporasi besar kerap dipandang tidak bisa berjalan seiring sejalan dengan pihak yang lebih kecil. Namun, kenyataan tidak selalu seperti itu. Salah satu contohnya diperlihatkan oleh grup Royal Golden Eagle (RGE) yang bisa maju berkembang bersama para petani kecil baik petani plasma maupun swadaya. Bahkan, komitmen RGE terhadap kerja sama dengan petani swadaya kian kuat.

Hal itu dibuktikan oleh salah satu anak perusahaan Royal Golden Eagle yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit, Asian Agri. Mereka tak ragu menjalin ikatan kerja sama dengan para petani swadaya sejak 2012 lalu. Hingga kini, hubungan saling menguntungkan tersebut masih berlanjut dan terus berkembang semakin kuat.

Perlu diketahui, petani swadaya sedikit berbeda dengan petani plasma. Mereka adalah para petani independen yang bekerja tanpa ikatan dengan pihak lain. Dalam artian, mereka bisa mengolah lahan sendiri serta bebas menentukan ke mana penjualan hasil pertaniannya.

Akan tetapi, karena semua dilakukan secara mandiri, produktivitas hasil perkebunan petani swadaya cenderung rendah. Hal itu bisa terjadi karena modal yang minim serta pengetahuan tentang pengelolaan perkebunan yang kurang memadai.

Inilah yang mendasari Royal Golden Eagle untuk menjalin kerja sama dengan para petani swadaya. Mereka prihatin dengan kondisi yang dialami petani independen tersebut. Grup perusahaan yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini kemudian menjalin hubungan dengan sistem kemitraan.

Mirip seperti relasi dengan petani plasma, RGE bertindak sebagai mitra yang memberi pendampingan kepada petani swadaya. Mereka memberikan bibit kelapa sawit dengan kualitas terbaik kepada petani swadaya.

Selain itu, Royal Golden Eagle melengkapinya dengan pendampingan pengelolaan perkebunan yang baik. RGE juga mengerahkan tim riset dan pengembangan terbaiknya untuk mendampingi para petani swadaya.

“Kalau membina mereka berarti kami membangun loyalitas mereka. Kami dapat suplai yang lebih terjamin,” kata Direktur Asian Agri Freddy Widjaya di Bisnis.com.

Inisiatif Asian Agri juga didasari alasan kepedulian terhadap kelestarian alam. Seperti anak perusahaan Royal Golden Eagle lain, mereka diwajibkan untuk ikut menjaga keseimbangan iklim dalam setiap operasi perusahaan. Mendampingi petani swadaya berarti melakukan arahan kerja terkait dengan lingkungan.

Patut disadari, produktivitas hasil perkebunan petani swadaya yang cenderung lebih rendah sering berdampak buruk bagi kelestarian alam. Pasalnya, para petani kerap mengompensasinya dengan membuka lahan baru. Langkah ini punya dua konsekuensi buruk. Pertama ada area hutan yang dibabat sehingga semakin berkurang. Sedangkan yang kedua, banyak yang menggunakan metode pembakaran dalam pembukaan lahan. Ini yang kerap memicu kebakaran lahan dan hutan.

TARGET YANG HENDAK DICAPAI

TARGET YANG HENDAK DICAPAISource: Inside RGE

Asian Agri memulai program kemitraan dengan petani swadaya dengan lahan seluas 2.791 hektare. Semua lahan itu dimiliki oleh para petani. Namun dengan pendampingan yang baik dari anak perusahaan grup yang sempat bernama Raja Garuda Mas tersebut, petani diharapkan akan diperoleh hasil perkebunan yang baik.

Akan tetapi, lima tahun sejak program kemitraan dengan petani swadaya digulirkan, cakupan area semakin berkembang. Hal itu tak lepas pula dari jumlah petani yang ikut serta dalam program tersebut kian bertambah.

Sampai Juni 2017, seperti dilaporkan di Bisnis.com, luas lahan pertanian yang dicakup dalam kemitraan Asian Agri dengan petani swadaya telah melonjak mencapai 23.771 hektare. Lahan itu tersebar di tiga provinsi yaitu  Sumatera Utara seluas 8.593 hektare, Riau seluas 6.859 hektare, dan Jambi yang mencapai 8.319 hektare.

Dari hasil kerja sama dengan petani swadaya, hasil positif telah dinikmati oleh Asian Agri. Selama ini, produksi minyak kelapa sawit oleh lini bisnis RGE tersebut mencapai satu juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 25 persennya ternyata sudah didukung oleh para petani swadaya.

Pencapaian yang diraih oleh Asian Agri dan petani swadaya sesungguhnya sudah menggembirakan. Namun, unit bisnis Royal Golden Eagle itu belum puas. Mereka ingin memperluas cakupan kemitraan dengan para petani baik dengan petani plasma maupun petani swadaya.

Saat ini, luas lahan kemitraan Asian Agri dengan petani swadaya dan petani plasma telah mencapai 60 ribu hektare. Namun, anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut menargetkan jumlahnya meningkat hingga menjadi 100 ribu hektare pada 2020 nanti.

Tak aneh, upaya peningkatan jumlah petani yang diajak bekerja sama dalam kemitraan diharapkan meningkat. Asian Agri rupanya memiliki target tersendiri yang hendak. Mereka ingin menyamakan luas kebun dalam kemitraan sama seperti dengan luas area kebun inti perusahaan.

“Target jangka pendek 1:1. Setiap lahan yang dioperasikan perusahaan inti akan didampingi oleh satu hektare lahan kemitraan, bisa di plasma, bisa di swadaya,” ujar Freddy.

Selain demi alasan peningkatan produktivitas perusahaan, Asian Agri melakukannya supaya kesejahteraan petani meningkat. Harus diakui, saat ini, program kemitraan mereka dengan para petani baik dalam sistem petani plasma dan petani swadaya memberi hasil positif baik kedua belah pihak.

MANFAAT UNTUK PETANI

MANFAAT UNTUK PETANISouece: DW.com

Tujuan program kemitraan yang dijalankan Asian Agri adalah keuntungan yang dinikmati bersama dengan para petani. Inilah yang akhirnya dirasakan oleh para petani swadaya sesudah ikut dalam program tersebut.

Salah satu contohnya adalah para petani swadaya yang tergabung dalam  Asosiasi Petani Swadaya Amanah, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau. Produksi tandan buah segar mereka meningkat sejak kemitraan dengan Asian Agri dilakukan. Sebelumnya hasil per hektare hanya mencapai 18 ton. Namun, sesudah kerja sama dengan anak perusahaan Royal Golden Eagle tersebut dilakukan melonjak hingga mencapai 21 ton per hektare.

Tentu saja peningkatan produktivitas yang diperoleh turut mendongkrak pendapatan para petani. Dulu para petani hanya mendapat penghasilan sekitar Rp1,2 juta dari hasil produksi per hektare setiap bulan. Kini, para petani swadaya bisa mendapat penghasilan hingga Rp1,9 juta per hektare dalam kurun waktu yang sama.

Peningkatan pendapatan tidak lepas dari kenaikan harga penjualan tandan buah segar yang dinikmati oleh petani. Karena hasil yang kurang bagus, biasanya petani mendapat penawaran harga rendah Rp.1.060 per kilogram, namun berkat kerja sama dengan Asian Agri, jaminan harga yang didapat jauh lebih baik mencapai Rp.1.378 per kilogram.

Keuntungan finansial yang menunjang penghidupan telah dirasakan secara nyata oleh para petani swadaya. Hal itu ditambah dengan ilmu yang sangat bermanfaat berupa kemampuan mengelola lahan perkebunan yang baik. Ilmu tersebut diperoleh dari pengajaran yang diberikan oleh tim dari Asian Agri.

Seorang petani swadaya yang berasal dari Asahan, Arafik, mengakui mendapat beragam manfaat sejak menjadi mitra Asian Agri. “Mulai dari pemahaman mengelola kebun kelapa sawit secara baik hingga meningkatkan produktivitas sawit dan penghasilan pendapatan,” ucapnya di Obrolanbisnis.com.

Namun, dari semua itu, Arafik menilai ada hubungan saling menguntungkan seimbang antara petani swadaya dan Asian Agri. Ini yang dinilainya bisa menarik banyak pihak untuk ikut bergabung. “Perusahaan untung, kami, para petani pun ikut untung,” ujar Arafik.

Selain bagi Asian Agri dan petani swadaya, alam pun menikmati keuntungan dari program kemitraan tersebut. Pasalnya, para petani jadi tahu cara bertani yang berkelanjutan sehingga lingkungan ikut terjaga.

Salah satu buktinya adalah sertifikat Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang diperoleh oleh Asoasiasi Petani Swadaya Amanah pada Juni 2017. Kelompok petani yang beranggotakan 500 orang tersebut menjadi yang pertama meraih sertifikat ISPO.

Keberhasilan ini menandakan program kemitraan Asian Agri dengan petani swadaya berbuah beragam hal positif. Ini pula yang akhirnya menyemangati anak perusahaan Royal Golden Eagle itu untuk terus memperkuat komitmen dalam kerja sama saling menguntungkan tersebut.

Leave a Reply